Sepucuk Surat Untuk Anakku

Sumber gambarL https://static.republika.co.id/uploads/images/inpicture_slide/kematian-_140627104414-910.jpg

Anakku, tahukah kamu akan halnya sesuatu kejadian yang amat membahagiakan Ayah dan Ibumu? Sesuatu yang jauh lebih berfaedah berbunga uang dan kuasa, harta dan tahta. Tak mesti kau jawab, anakku. Karena kamulah jawabannya.

Benar, komisi itu penting, kuasa dan kedudukan, prestise sosial, itu semua utama. Tetapi itu tak lebih berharga berusul makna hadirmu lakukan kami. Harta, kuasa, status sosial, tentu saja itu amat dibutuhkan, menghibur jika sosok menggenggamnya. Doang, itu semua enggak melulu mampu mewujudkan kami bahagia.
Tell me, can money buy happiness?

Enggak sedikit orang tua yang berkreasi teramat keras,
workaholic, membantingtulangkan tenaga, pikiran, dan kali harga diri, saja kebahagiaan tak serta merta merayapi. Ayahnya mungkin beranjak dari kondominium saat anaknya masih terlelap, lalu kembali ke rumah sekali lagi anaknya sudah terlelap. Uang jasa mereka banyak, tabungan dan asuransi buat cem-ceman dan anak-anaknya makin dari patut. Hanya mereka kesulitan tetapi menyediakan tahun untuk makan malam bersama. Bahkan akhir pekan mereka mungkin kembali mutakadim dikontrak maka dari itu tempatnya bekerja.

Bagaimana dengan Ayahmu?

Ketahuilah Anakku, Ayah dan ibumu sekali lagi teramat rajin merasa bahagia, apalagi jika itu menyangkutmu. Tahukah kau, lewat ayah pelalah mendengar nasihat seperti ini:
Selelah apapun seorang Ayah bekerja, seperti itu sira pulang ke kondominium dan menyaksikan gelak putra atau dayang kecilnya yang sedang main-main, tiba-tiba lejar itu ranggas menjelma menjadi perasaan bahagia.

Dulu, sebelum kamu lahir, Ayah menganggap cerita ini tak makin dari mitos nan didengang dengungkan para basyar jompo. Mungkin sebagai mantra pelipur lara atas jibaku yang penuh duka dan lara. Tetapi akhirnya Ayah membuktikan sendiri kebenaran selang ini, tentu melintasi kehadiranmu.

Baca :   Contoh Pesan Kesan Untuk Kakak Osis

Ada saatnya Ayah pulang kerja dengan kelelahan nan teramat, raga atau pikiran, lahir batin. Dalam perjalanan pulang, yang terpikir hanyalah bantal dan kasur, ingin rasanya merebahkan segera lelah ini. Tetapi saat membuka pintu rumah, lantas kamu berlari untuk memeluk Ayahmu, menjuluki-panggil dengan manja: Ayah Ayah Ayah .. Tahukah Nak, saat itu mendadak lejar ini hilang entah ke mana, tahu-tahu hati dan pikiran nan penuh berlebih kembali plong. Saat itulah Ayahmu makmur menikmati kualitas kebahagiaan nan sulit terjelaskan, ingin rasanya berlama-lama menghayati setiap detailnya. Siapa ini sahaja kepelesiran kecil, sahaja yang kecil ini menjadi sesuatu nan amat mahal lakukan banyak khalayak nan vitalitas berlimpah harta.

Anakku, ingatlah selalu pesan Ayahmu ini. Aku sudah cangap menjumpai orang-orang tua nan hendak merodong ajalnya. Tahukah apa nan mereka risaukan? Ternyata mereka hanya menakutkan satu hal: kesendirian, kesepian. Mereka hanya mendambakan hal sederhana, bahwa di momen-saat kritisnya itu ada anak asuh-anaknya nan menemani, karena kesendirian di akhir itu teramat menyakitkan, lebih remai dari sakit nan telah menahun dia rasakan. Beberapa menjalani fase perseptif nan tahapan, mungkin juga koma, hanya karena menanti momongan-anaknya nan belum genap di samping pembaringannya.

Begitupun Ayahmu, Nak. Karena sehebat apapun manusia, proses mortalitas selalu menyakitkan dan menyeramkan. Maka berjanjilah kelak kau akan mendampingiku, Anakku. Berada di samping Ayahmu. Ya, rekatkan jarakmu, setakat kau dengan mudah membarut-barut kening Ayahmu yang mendadak berkeringat, memeluk tubuhku yang mendingin, menempelkan bibirmu ke telinga Ayahmu nan tak berdaya, membisikkan guna-guna kalimusada:

Laa ilaaha illallah, Muhammadur rasulullah.

Setelah itu, mungkin kau akan merasakan sedikit getaran, karena tubuh ayahmu yang berkonstraksi, setakat detak jantung dan nyut nadi ini akan mendalam berhenti. Ya, Ayahmu telah mati.
[]

Baca :   Kandang Burung Puyuh Dari Bambu

Ikuti Ulasan-Ulasan Mengganjur Lainnya dari Penulis Klik di Sini

Image

Sendiri pembelajar, saat ini menjadi redaktur di sebuah media lokal di Kota Pekalongan


Silakan Login bikin Berkomentar

Artikel Lainnya

Sepucuk Surat Untuk Anakku

Source: https://retizen.republika.co.id/posts/15010/surat-cinta-untuk-anakku%E2%80%A6

Check Also

Harga Lovebird Violet Df

Harga Lovebird Violet Df Harga Lovebird Violet – Mana tahu cak bagi sebagian orang nan …